Meneropong Masa Depan Umar Bakri

Masa depan seseorang tidak ada yang tahu. Demikian pula dengan guru. Tetapi belajar dari sejarah bisa membuat kita bisa menabak-nebak dengan dalil-dalil ilmiah. Meski kenyataan tetap bukan berada di tangan kita, tetapi kejadian-kedian sesuai dengan hukum alam, kausalitas, sebab akan menimbulkan musabab.

Masa depan guru adalah masa depan Indonesia. Jika guru memiliki masa depan yang baik, maka indonesia juga akan baik. Sebuah bangsa sepuluh tahun atau lima belas tahun ke depan bisa dilihat dari bagaimana guru-gurunya sekarang. Sebab guru adalah ujung tombak pendidikan, guru akan melahirkan guru yang lain, guru adalah sumber mata air dimana peradaban dibentuk.

Kita lihat sekarang, seperti apakah keadaaan guru-guru kita? Secara ekonomi, spiritual, sosial, spikologi, yang semua itu akan menentukan bagaimana kinnerja mereka. Secara ekonomi guru indonesia sebagian besar sudah hidup cukup. Mereka yang berstatus PNS sebagian menitipkan SK mereka pada awal-awal masa kerja. Tentu bukan semata untuk mencukupi keperluan-keperluan tidak penting, seperti membeli kendaraan atau hal-hal tersier lain. Sebagian guru akan kesulitan untuk menabung dan bisa membeli rumah tanpa harus memaksakan diri menitipkan SK di bank. Dengan berhutang mau tidak mau mereka akan memotong gaji, tapi dengan begitu mereka bisa mendapatkan dana yang besar untuk digunakan mencukupi kebutuhan mendasar. Membeli rumah, dan tidak sedikit juga yang menggunakannya untuk memesan seat haji.

Di lain pihak, tidak sedikit guru-guru yang bestatus honorer yang mereka masih harus ngobyek ke sana kemari untuk mencukupi kebutuhan hidup. Barangkali di antara mereka sudah punya rumah, mobil bahkan, tetapi itu didaapat bukan semata kerjanya atau gaji dari sekolah. MElainkan karena usaha sampingan yang penghasilannya bisa jadi lebih besar.

Ketimpangan ini akan menjadi masalah panjang yang tidak akan selesai selama bertahun-tahun kecuali pemerintah memiliki langkah yang tegas, jelas, dan strategis.

Lalu soal spiritual. Secara sprititual guru-guru Indonesia dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan ekonomi mereka. Ini tidak selalu. Dan seharusnya spriritual itu yang akan mempengaruhi sikap mereka terhadap keadaaan dan bukan sebaliknya. Kenyataannya, lingkungan sosial yang pragmatis dan tingkat ekonomi guru mempengaruhi kehidupan spiritual para guru. Ketika badai teknologi menerjang Indonesia, guru-guru seperti tidak ingin ketinggalan, tetapi banyak sekali di antara merek ayang masih gagap, sehingga menggunakan teknologi bukan untuk membantu menyelesaikan tugas-tugas mereka, melainkan sekadar untuk menghindar dari ejekan, :ketinggalan jaman.

Spiritual dan kejiwaan seseorang juga dipengaruhi oleh ilmu. Secara umum, guru-guru kita adalah para sarjana, entah itu sarjana umum maupun sarjana ilmu keagamaan. Yang jelas, bahwa semestinya semakin tinggi ilmu seseorang semaki dewasanya jiwanya. Ia tidak mudah terpengaruh. Ia kukuh. istiqomah. Ia membeli kerena butuh.

Melihat kondisi dan fenomena sekarang, pemerintah mesti mengambil langkah untuk menyelesaikan masalah-maslalah guru. Yang paling penting adalah bagaimana guru mengubah pola pikir, dan mentalnya, juga bagaimana ia menghadapi dunia yang terus bergerak. Persoalan guru honorer yang bergaji rendah juga akan sangat mempengaruhi kinerja mereka, dan sudah sepatutnya pemerintah memikirkan hal ini secara serius.

Jika pemerintah tidak mengambil langkah yang jelas terkait persoalan-persoalan guru dengan membaca berbagai fenomena yang ada, melainkan justru sibuk memikirkan kurikulumnya, maka nasib generasi bangsa benar-benar akan terancam. Ada yang pernah menyatakan bahwa pada tahn 2035 indnesia akan mengalami krisis kepemimpinan. Dan menurut saya tidak hanya pada tahun itu saja. JIka guru-guru yang mengajar SD, SMP, SMA pada tahun ini tidak punya karakter yang kuat, maka bangsa indonesia akan mengalami krisis kepemimpinan sampai tahun 2050. Saat itu, mungkin anda yang membaca tulisan ini, atau saya sendiri sudah tidak ada, tetapi anak cucu kita, bagaimana?

Oh...Umar bakri
Masa depanmu adalah masa depan bangsa
Ayolah, sudahi berkeluh kesah
dan kalau ada kebijakan pemerintah salah
Lawanlah!
Facebook CommentsShowHide

0 komentar